KITAB TENTANG PUASA (HADIST BUKHARI)

33. KITAB TENTANG PUASA

BAB 1: KEUTAMAAN PUASA

1894 Diriwayatkan dari Abu Hurairah Radliyallaahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam pernah bersabda: “Puasa adalah perisai diri (dari api neraka). Maka seseorang yang sedang berpuasa janganlah menggauli istrinya, berkata kotor dan berbuat jahil, jika dia diajak bertengkar atau dicaci hendaklah dia mengatakan, “Saya sedang berpuasa””. Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam mengulanginya dua kali. “Demi Allah yang diriku dalam genggamanNya, sungguh bau mulut orang yang berpuasa di sisi Allah Swt lebih harum daripada bau misk/ kesturi. Allah Azza wa Jalla berfirman: “HambaKu meninggalkan makan, minum dan syahwatnya karena Aku. Puasa itu bagi-Ku dan Aku-lah yang akan membalasnya, dan setiap kebaikan akan dibalas 10 kali”.

BAB 2: PINTU RAYYAN DI SURGA BAGI ORANG-ORANG YANG BERPUASA

1896 Diriwayatkan dari Sahl Radliyallaahu ‘anhu bahwa Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam pernah bersabda: “Di surga ada sebuah pintu bernama Ar Rayyan yang kelak pada hari kiamat akan dimasuki oleh orang-orang yang berpuasa, tanpa ada seorangpun selain mereka yang memasukinya. Dikatakan pada hari itu, “Mana orang-orang yang berpuasa?” Maka merekapun bangkit untuk memasuki pintu itu tanpa seorangpun selain mereka yang memasukinya. Ketika mereka sudah masuk semua, pintu itu ditutup dan tidak ada lagi seorangpun yang memasukinya”.

1897 Diriwayatkan dari Abu Hurairah Radliyallaahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam pernah bersabda: “Siapa yang memberikan dua macam harta di jalan Allah akna dipanggil untuk memasuki pintu-pintu surga. “Hai hamba Allah, inilah balasan harga yang engkau infakkan untuk kebaikan. Orang yang melaksanakan solat akan dipanggil dari pintu solat, orang yang berjihad akan dipanggil dari pintu jihad, orang yang berpuasa akan dipanggil dari pintu Rayyan dan orang yang bersedekah solat akan dipanggil dari pintu sedekah”.” Abu Bakr Radliyallaahu ‘anhu mengatakan: “Saya pertaruhkan ayah dan ibu saya kepada anda (ungkapan untuk mohon izin bertanya atau berbicara), ya Rasulullah, sungguh tidak ada kesedihan sedikitpun bagi orang yang dipanggil dari semua pintu-pintu tersebut, dan apakah ada orang yang dipanggil dari semua pintu?” Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam menjawab: “Ya, ada, dan aku berharap engkaulah salah satunya”.

1898 Diriwayatkan dari Abu Hurairah Radliyallaahu ‘anhu dia berkata: Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam pernah bersabda, “Apabila bulan Ramadhan tiba, semua pintu surga terbuka”.

1899 Diriwayatkan dari Abu Hurairah Radliyallaahu ‘anhu, dia berkata: Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam pernah bersabda, “Apabila bulan Ramadhan tiba, semua pintu langit/ surga terbuka, semua pintu neraka tertutup dan setan-setan dibelenggu”.

BAB 3: APAKAH RAMADHAN ATAU BULAN RAMADHAN PERLU DISEBUTKAN DAN ORANG YANG MELIHAT HILAL (BULAN SABI

1900 Diriwayatkan dari Abdullah bin Umar Radliyallaahu ‘anhu dia berkata: Saya pernah mendengar Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Apabila kamu melihat hilal (pada awal malam Ramadhan), maka berpuasalah dan apabila kamu melihat hilal (pada awal malam Syawal), maka hentikan puasa, dan apabila langit diselimuti awan (sehingga hilal tidak terlihat), maka genapkan Ramadhan (30 hari)”.

BAB 4: ORANG BERPUASA YANG TIDAK MENINGGALKAN UCAPAN DAN PERBUATAN DUSTA/ JELEK

1903 Diriwayatkan dari Abu Hurairah Radliyallaahu ‘anhu dia berkata: Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam pernah bersabda, “Siapa yang berpuasa tanpa meninggalkan ucapan dan perbuatan dusta/jelek, maka Allah tidak membutuhkan puasa”.

BAB 5: APAKAH ORANG YANG BERPUASA MENGATAKAN: “SAYA SEDANG BERPUASA”, JIKA IA DICACI?

1904 Diriwayatkan dari Abu Hurairah Radliyallaahu ‘anhu seperti hadis di muka (nomor:925) dengan tambahan: “Semua amal ibadah anak Adam adalah untuk dirinya sendiri kecuali puasa, karena puasa adalah untuk Ku dan Akulah yang akan membalasnya”. Pada bagian akhir hadis disebutkan: “Orang yang berpuasa mendapat dua kesenangan, dia merasa senang ketika berbuka dan ketika bertemu dengan Tuhannya, dia juga merasa senang dengan pahala puasanya”.

BAB 6: PUASA BAGI ORANG YANG TIDAK MAMPU MENIKAH UNTUK MENGENDALIKAN SYAHWAT

1905 Diriwayatkan dari Alqamah bahwa Abdullah Radliyallaahu ‘anhu mengatakan: Suatu ketika kami bersama Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam, kemudian beliau bersabda, “Laki-laki yang sudah mampu menikah hendaklah ia menikah, karena menikah akan membuat pandangan matanya lebih merunduk dan membuat kemaluannya lebih terjaga. Siapa yang belum mampu menikah hendaklah ia berpuasa, karena puasa akan melerai nafsunya”.

BAB 7: SABDA NABI SAW: “APABILA KAMU MELIHAT HILAL (BULAN SABIT) PADA AWAL MALAM RAMADHAN, MAKA BERP

1907 Diriwayatkan dari Abdullah bin Umar Radliyallaahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Satu bulan itu bisa 29 hari, maka janganlah kamu berpuasa Ramadhan sebelum kamu melihat hilal dan apabila langit berawan (sehingga kamu tidak melihat hilal), maka genapkanlah Sya’ban 30 hari”.

1910 Diriwayatkan dari Ummu Salamah Radliyallaahu ‘anhu, bahwa Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam pernah bersumpah untuk menjauhi istri-istrinya selama sebulan. Setelah berlalu 29 hari beliau datang pada pagi atau sore hari, lalu ditanyakan kepada beliau: “Anda telah bersumpah menjauhi istri-istri anda selama satu bulan (mengapa sekarang anda datang?)”. Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam menjawab: “Satu bulan itu kadang-kadang 29 hari”.

BAB 8: DUA BULAN ID TIDAK BERKURANG KEUTAMAANNYA.

1912 Diriwayatkan dari Abu Bakrah Radliyallaahu ‘anhu bahwa Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam pernah bersabda: “Dua bulan Id, Ramadhan dan Dzul Hijjah tidaklah berkurang keutamaannya (meskipun kadang-kadang 29 hari)”.

BAB 9: SABDA NABI SAW: “KAMI TIDAK PANDAI MENULIS DAN BERHITUNG”

1913 Diriwayatkan dari Abdullah bin Umar Radliyallaahu ‘anhu bahwa Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Kami adalah umat yang ummiy. Kami tidak pandai menulis dan berhitung. Satu bulan itu sekian dan sekian”. Maksudnya: Kadang-kadang 29 hari dan kadang-kadang 30 hari.

BAB 10: LARANGAN MENDAHULUI RAMADHAN DENGAN BERPUASA SATU HARI ATAU DUA HARI SEBELUMNYA

1914 Diriwayatkan dari Abu Hurairah Radliyallaahu ‘anhu bahwa Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam pernah bersabda: “Janganlah seseorang dari kamu mendahului Ramadhan dengan berpuasa satu hari atau dua hari sebelumnya, kecuali bagi orang yang sudah terbiasa berpuasa sunat yang kebetulan waktunya pada hari itu, maka ia boleh berpuasa”.1

1): Keterangan: Misalnya, menjelang Ramadhan kebetulan hari Senin atau Kamis, maka orang yang sudah terbiasa berpuasa sunat pada hari Senin dan Kamis boleh berpuasa pada hari itu.

BAB 11: FIRMAN ALLAH AZZA WA JALLA (YANG ARTINYA): “DIHALALKAN BAGIMU PADA MALAM BULAN PUASA MENGGAU

1915 Diriwayatkan dari Al Barra Radliyallaahu ‘anhu, dia berkata: Kebiasaan para sahabat Nabi Muhammad Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam apabila salah seorang berpuasa kemudian waktu berbuka tiba namun ia tertidur sebelum berbuka, maka pada malam itu dan siang hari berikutnya ia tidak makan sampai petang/ maghrib. Qais bin Shirmah Al Anshari berpuasa. Ketika waktu berbuka tiba dia menemui istrinya dan bertanya: “Apakah ada makanan?” Istrinya menjawab: “Tidak ada, tetapi saya akan pergi mencari makanan untukmu”. Qais bekerja seharian sehingga ia tertidur semalaman (karena lelah). Ketika istrinya datang dan melihatnya, istrinya mengatakan: “Kasihan kau”. Pada tengah hari berikutnya Qais pingsan, kemudian hal itu diberitahukan kepada Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam, maka turunlah ayat (yang artinya): “Dihalalkan bagimu pada malam bulan puasa menggauli istri-istrimu … ” (Al Quran surah Al Baqarah:187). Orang-orang sangat gembira dengan turunnya ayat itu. Turun pula lanjutan ayat (yang artinya): “Makan dan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar, dan sempurnakanlah puasa hingga malam tiba”. (Al Quran surah Al Baqarah: 187).

BAB 12: FIRMAN ALLAH SWT (YANG ARTINYA): “MAKAN DAN MINUMLAH HINGGA TERANG BAGIMU BENANG PUTIH DARI

1916 Diriwayatkan dari Adi bin Hatim Radliyallaahu ‘anhu dia berkata: Ketika turun ayat (yang artinya): ” … hingga jelas bagimu benang putih dari benang hitam”, saya mengambil dua utas tali pengikat masing-masing hitam dan putih, kemudian saya meletakkannya di bawah bantal saya. Pada malam hari saya melihat tali tersebut namun tidak tampak jelas perbedaan antara keduanya. Pada pagi hari saya menemui Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam untuk memberitahukan kepada beliau apa yang telah saya lakukan itu, kemudian beliau bersabda: “Benang hitam maksudnya gelapnya malam dan benang putih maksudnya terangnya siang (yakni fajar)”.

BAB 13: PERKIRAAN JEDA ANTARA SAHUR DENGAN SOLAT SUBUH

1921 Diriwayatkan dari Anas Radliyallaahu ‘anhu bahwa Zaid bin Tsabit Radliyallaahu ‘anhu mengatakan: Kami makan sahur bersama Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam, kemudian beliau berdiri untuk melaksanakan solat (subuh). Ditanyakan kepada Zaid: Berapa lama kira-kira antara azan dengan sahur? Dia menjawab: Kira-kira bacaan 50 ayat Al Quran.

BAB 14: SAHUR TIDAK WAJIB TETAPI MENGANDUNG BERKAH

1923 Diriwayatkan dari Anas bin Malik Radliyallaahu ‘anhu dia berkata: Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam pernah bersabda, “makan sahurlah, karena makan sahur itu mengandung berkah”.

BAB 15: BERNIAT PADA SIANG HARI UNTUK BERPUASA SUNAT

1924 Diriwayatkan dari Salamah bin Al Akwa Radliyallaahu ‘anhu bahwa pada hari Asyura (10 Muharram) Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam menyuruh seseorang untuk menyampaikan pengumuman kepada orang-orang: “Siapa yang telah makan teruskan atau hentikan, dan siapa yang belum makan, maka berpuasalah”.

BAB 16: ORANG YANG BERPUASA DALAM KEADAAN JUNUB KETIKA SUBUH

1925 Diriwayatkan dari Aisyah dan Ummu Salamah Radliyallaahu ‘anhu bahwa ketika fajar tiba, Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam pernah dalam keadaan junub sehabis menggauli istrinya, kemudian beliau mandi dan berpuasa.

BAB 17: MEMELUK ISTRI BAGI ORANG YANG BERPUASA

1927 Diriwayatkan dari Aisyah Radliyallaahu ‘anhu, dia berkata: Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam pernah mencium dan memeluk istrinya ketika beliau sedang berpuasa, dan beliau adalah orang yang paling mampu mengendalikan diri dibanding kalian semua.

BAB 18: ORANG YANG BERPUASA MAKAN DAN MINUM KARENA LUPA

1933 Diriwayatkan dari Abu Hurairah Radliyallaahu ‘anhu bahwa Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam pernah bersabda: “Apabila seseorang lupa (bahwa ia sedang berpuasa) kemudian ia makan dan minum, maka hendaklah ia lanjutkan puasanya, karena demikian itu berarti ia diberi makan dan minum oleh Allah”.

BAB 19: ORANG YANG BERPUASA RAMADHAN KEMUDIAN MELAKUKAN PERSETUBUHAN PADA SIANG HARI NAMUN IA TIDAK

1936 Diriwayatkan dari Abu Hurairah Radliyallaahu ‘anhu dia berkata: Ketika kami sedang duduk bersama Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam tiba-tiba beliau didatangi oleh seorang laki-laki kemudian dia mengatakan, “Ya Rasulullah, saya benar-benar celaka”. Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bertanya, “Ada apa denganmu?” Orang itu mengatakan, “Saya menggauli istri saya ketika saya sedang berpuasa Ramadhan”. Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bertanya, “Mampukah kamu memerdekakan seorang budak?” Dia menjawab, “Tidak”. Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bertanya lagi, “Mampukah kamu berpuasa selama dua bulan berturut-turut?” Dia menjawab, “Tidak”. Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bertanya lagi, “Mampukah kamu memberi makan 60 orang miskin?” Dia menjawab, “Tidak”. Orang itu tetap berada di dekat Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam. tidak lama kemudian satu keranjang berisi kurma di bawa oleh seseorang kepada Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam, kemudian beliau bertanya, “Dimana orang yang bertanya tadi?” Orang tersebut menjawab, “Saya disini”. Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda, “Ambil kurma ini kemudian sedekahkan”. Orang tersebut bertanya, “Ya Rasulullah, apakah kurma ini harus saya sedekahkan kepada orang lain yang lebih miskin dari saya? Demi Allah, di antara dua gunung di Madinah ini tidak ada keluarga yang lebih miskin daripada keluarga saya”. Mendengar itu Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam tersenyum sehingga tampak gigi serinya, lalu beliau bersabda, “Berikan makanan ini kepada keluargamu”.

BAB 20: BEKAM/CANDUK DAN MUNTAH BAGI ORANG YANG BERPUASA

1938 Diriwayatkan dari Abdullah bin Abbas Radliyallaahu ‘anhu bahwa Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam pernah melakukan canduk ketika beliau sedang berihram dan ketika beliau sedang berpuasa.

BAB 21: BERPUASA ATAU BERBUKA KETIKA DALAM PERJALANAN JAUH

1941 Diriwayatkan dari Ibnu Abi Aufa Radliyallaahu ‘anhu, dia berkata: Kami menyertai Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam dalam suatu perjalanan jauh, kemudian beliau berkata kepada seorang laki-laki, “Turunlah, lalu adukkan minuman untukku”. Orang itu menjawab, “Ya Rasulullah, matahari belum terbenam”. Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam menyuruhnya lagi, “Turunlah, lalu adukkan minuman untukku”. Maka orang itu turun dari kendaraannya, kemudian mengaduk minuman untuk Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam, lalu beliau meminumnya. Setelah itu beliau menudingkan tangan ke arah sini (timur) sambil bersabda, “Apabila kamu melihat malam telah tiba dari arah sini, maka orang yang berpuasa harus berbuka”.

1943 Diriwayatkan dari Aisyah Radliyallaahu ‘anhu, istri Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bahwa Hamzah bin Amr Al-Aslami — yang sering berpuasa — bertanya kepada Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam: “Apakah saya harus berpuasa ketika dalam perjalanan jauh?” Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam menjawab: “Terserah kamu, boleh berpuasa, boleh tidak”.

BAB 22: SUDAH BERPUASA BEBERAPA HARI PADA BULAN RAMADHAN KEMUDIAN BEPERGIAN JAUH.

1944 Diriwayatkan dari Abdullah bin Abbas Radliyallaahu ‘anhu bahwa pada bulan Ramadhan Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam pergi ke Mekah dalam keadaan berpuasa. sEtelah sampai di Al-Kadid beliau tidak berpuasa, maka orang-orang pun turut tidak berpuasa.

BAB 23: PUASA NABI SAW DALAM PERJALANAN JAUH

1945 Diriwayatkan dari Abu Darda Radliyallaahu ‘anhu, dia berkata: Kami berangkat bersama Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam untuk menempuh perjalanan jauh pada hari yang sangat panas, sehingga orang-orang menutupkan tangan di atas kepalanya, dan tidak seorangpun di antara kami yang berpuasa kecuali Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam dan Ibnu Rawahah.

BAB 24: SABDA NABI SAW: “BERPUASA DALAM PERJALANAN JAUH TIDAK TERMASUK KEBAIKAN”

1946 Diriwayatkan dari Jabir bin Abdullah Radliyallaahu ‘anhu, dia berkata: Suatu ketika Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam dalam perjalanan jauh, kemudian beliau melihat beberapa orang yang salah satunya diberi naungan, kemudian beliau bertanya, “Ada apa dengan orang ini?” Mereka menjawab, “Dia sedang berpuasa”. Maka Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda, “Tidaklah termasuk kebaikan berpuasa dalam perjalanan jauh”.

BAB 25: PARA SAHABAT NABI SAW TIDAK SALING MENCEMOOH MENGENAI BERPUASA ATAU TIDAK KETIKA DALAM PERJA

1947 Diriwayatkan dari Anas bin Malik Radliyallaahu ‘anhu, dia berkata: Kami pernah menempuh perjalanan jauh bersama Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam dan antara orang yang berpuasa dengan orang yang tidak berpuasa dalam rombongan kami tidak saling mencemooh.

BAB 26: ORANG YANG MENINGGAL DENGAN TANGGUNGAN PUASA

1952 Diriwayatkan dari Aisyah Radliyallaahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam pernah bersabda: “Siapa yang meninggal sedangkan dia mempunyai utang puasa, maka walinya harus berpuasa atas nama dia”.

1953 Diriwayatkan dari Abdullah bin Abbas Radliyallaahu ‘anhu, dia berkata: Seorang laki-laki menemui Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam kemudian bertanya, “Ya Rasulullah, ibu saya meninggal sedangkan ia mempunyai utang puasa satu bulan, bolehkah saya berpuasa atas namanya?” Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam menjawab, “Ya, boleh, karena utang kepada Allah harus diprioritaskan pelunasannya”.

BAB 27: KAPAN ORANG YANG BERPUASA BOLEH BERBUKA?

1956 Diriwayatkan dari Ibnu Abi Aufa mengenai perintah Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam kepadanya atau kepada seseorang: “Aduklah minuman untukku”. Seperti hadis terdahulu (nomor 943), namun dalam riwayat ini ada tambahan sebagai berikut: “Apabila kamu melihat malam telah tiba dari sebelah sini, maka orang yang berpuasa harus berbuka”. Beliau ketika itu menudingkan jari tangannya ke arah timur.

BAB 28: MENYEGERAKAN BERBUKA

1957 Diriwayatkan dari Sahl bin Sa’d Radliyallaahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam pernah bersabda: “Orang-orang yang berpuasa senantiasa dalma kebaikan selama mereka menyegerakan berbuka”.

BAB 29: BERBUKA MENJELANG MAGHRIB PADA BULAN RAMADHAN, TERNYATA KEMUDIAN MATAHARI BELUM TERBENAM

1959 Diriwayatkan dari Abu Usamah bahwa Hisyam bin Urwah menuturkan dari Fathimah ra: Asma binti Abu Bakr Radliyallaahu ‘anhu berkata, “Pada masa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam kami pernah berbuka puasa ketika langit berawan, ternyata kemudian matahari belum terbenam”.

BAB 30: PUASA ANAK-ANAK

1960 Diriwayatkan dari Ar Rubayyi binti Mu’awwidz Radliyallaahu ‘anhu, dia berkata: Pada hari Asyura (10 Muharram) Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam mengutus seseorang ke perkampungan orang-orang anshar untuk mengumumkan, “Siapa pagi ini yang sudah makan maka teruskan, dan siapa yang belum makan maka berpuasalah”, (lihat hadis di muka nomor:937). Kata Ar-Rubayyi binti Mu’awwidz ra: Semenjak adanya pengumuman itu kami selalu berpuasa pada hari Asyura dan kami juga menyuruh anak-anak kami berpuasa. Kami membuatkan mereka mainan dari wol. Ketika salah seorang dari mereka menangis meminta makan kami memberikan mainan tersebut sehingga tiba saat berbuka.

BAB 31: PUASA WISHAL HINGGA SAAT SAHUR

1963 Diriwayatkan dari Abu Sa’id Radliyallaahu ‘anhu bahwa dia pernah mendengar Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Janganlah kamu melaksanakan puasa wishal (puasa tanpa berbuka ketika matahari terbenam sampai dengan waktu sahur). Siapapun dari kamu ingin berpuasa wishal, maka lakukanlah hingga waktu sahur”.

BAB 32: HUKUMAN BAGI ORANG YANG SERING BERPUASA WISHAL

1965 Diriwayatkan dari Abu Hurairah Radliyallaahu ‘anhu, dia berkata: Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam melarang puasa wishal, kemudian beliau ditanya oleh seorang muslim, “Mengapa anda sendiri melakukan puasa wishal?” Beliau menjawab, “Siapa di antara kamu yang sama denganku? Aku ini diberi makan dan minum oleh Tuhanku sepanjang malam”. Kata Abu Hurairah ra: Ketika orang-orang tidak mau menghentikan puasa wishal, Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam melaksanakan puasa wishal bersama mereka hari demi hari sehingga mereka melihat hilal (tanggal 1 syawal), kemudian beliau bersabda, “Seandainya hilal/bulan sabit tidak muncul, aku akan terus mengajak kalian berpuasa wishal”. Kata Abu Hurairah ra: Sepertinya raasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam memberi hukuman kepada mereka, karena mereka tidak mau menghentikan puasa wishal. Disebutkan dalam riwayat lain: Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda kepada mereka, “Laksanakanlah ibadah menurut kemampuanmu”.

BAB 33: MENDESAK ORANG LAIN YANG SEDANG BERPUASA SUNAT AGAR MEMBATALKAN PUASANYA.

1968 Diriwayatkan dari Abu Juhaifah Radliyallaahu ‘anhu, dia berkata: Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam mempersaudarakan antara Salman dan Abu Darda. Suatu ketika Salman mengunjungi Abu Darda, maka ia melihat Ummu Darda (istri Abu Darda) berpakaian lusuh, kemudian Salman berkata kepadanya, “Mengapa kamu seperti ini?” Ummu Darda menjawab, “Saudaramu, Abu Darda, tidak membutuhkan dunia”. Maka datanglah Abu Darda, lalu ia menyiapkan makanan untuk Salman. Kata Abu Darda, “Silahkan makan sendiri karena saya sedang berpuasa”. Kata Salman, “Saya tidak akan makan kecuali jika kau juga makan”. Maka Abu Darda pun makan. Ketika malam, Abu Darda bangun hendak melaksanakan solat tahajjud, tetapi Salman menegurnya, “Tidurlah”. Abu Darda bangun lagi, tetapi Salman menegurnya lagi, “Tidurlah”. Pada penghujung malam yang akhir, Salman berkata, “Sekarang bangunlah”. Maka mereka berdua melaksanakan solat tahajjud. Salman berkata kepada Abu Darda, “Tuhanmu mempunyai hak yang harus engkau penuhi, dirimu mempunyai hak yang harus engkau penuhi sendiri, dan istrimu mempunyai hak yang harus engkau penuhi, maka penuhilah hak masing-masing dari semua itu. Setelah itu Abu Darda menemui Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam untuk menuturkan hal itu, kemudian Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda, “Salman memang benar”.

BAB 34: PUASA PADA BULAN SYA’BAN

1969 Diriwayatkan dari Aisyah Radliyallaahu ‘anhu, dia berkata: Begitu seringnya Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam berpuasa sehingga kami mengira beliau tidak pernah meninggalkan puasa, dan begitu seringnya pula Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam tidak berpuasa sehingga kami mengira beliau tidak berpuasa (sunat). Saya tidak pernah melihat Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam melengkapkan puasa sebulan penuh kecuali pada bulan Ramadhan dan saya tidak pernah melihat beliau memperbanyak puasa sunat melebihi puasa pada bulan Sya’ban.

1970 Diriwayatkan dari Aisyah Radliyallaahu ‘anhu, seperti hadis di muka (nomor 958) dengan tambahan pada riwayat lain: Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda, “Kerjakanlah ibadah menurut kemampuanmu, karena Allah tidak akan bosan memberimu pahala sehingga kamu bosan untuk beribadah”. Solat yang paling disenangi oleh Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam adalah solat yang dikerjakan secara rutin meskipun sedikit, dan apabila Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam mengerjakan suatu jenis solat, maka beliau akan selalu mengerjakannya secara rutin.

BAB 35: MASA-MASA NABI SAW BERPUASA DAN TIDAK

1973 Diriwayatkan dari Anas Radliyallaahu ‘anhu bahwa ia ditanya mengenai masa puasa Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam, kemudian ia menjawab: Kapanpun saya ingin melihat Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam melaksanakan puasa dalam bulan tertentu saya bisa melihatnya. Kapanpun saya ingin melihat Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam tidak berpuasa saya pun bisa melihatnya. Kapanpun saya ingin melihat Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bangun untuk solat malam saya pun bisa melihatnya. Kapanpun saya ingin melihat Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam tidur pada malam hari sayapun bisa melihatnya. Saya tidak pernah menyentuh kain khazzah dan sutera yang melebihi kelembutan tangan Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam, dan saya tidak pernah mencium minyak misk dan arbirah yang harumnya melebihi bau harum Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam.

0 Haidis Abdullah bin Amr bin Al Ash Radliyallaahu ‘anhu sudah disebutkan pada nomor lain (nomor 962 dan 963) mengenai puasa sunat.

BAB 36: HAK TUBUH BERKAITAN DENGAN PUASA

1975 Diriwayatkan dari Abdullah bin Amr bin Al-Ash Radliyallaahu ‘anhu dengan tambahan pada riwayat lain sebagai berikut: Setelah Abdullah bin Amr bin Al-Ash dewasa, dia mengatakan, “Sungguh lebih baik seandainya saya dulu melaksanakan keringan yang diberikan oleh Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam (yaitu berpuasa sunat tiga hari tiap bulan)”.

BAB 37: HAK KELUARGA BERKAITAN DENGAN PUASA SESEORANG

1977 Diriwayatkan dari Abdullah bin Amr bin Al-Ash Radliyallaahu ‘anhu dalam riwayat lain: Ketika menuturkan puasa Nabi Dawud as (dengan berselang sehari puasa, sehari tidak berpuasa), beliau bersabda, “Nabi Dawud as tidak pernah melarikan diri ketika bertemu musuh”. Abdullah bin Amr bertanya, “Wahai Nabi, apakah ada contoh lain yang melebihi puasa Nabi Dawud yang bisa saya tiru?” Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda, “Orang yang berpuasa setiap hari (tanpa berselang) sama dengan tidak berpuasa”. Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda seperti itu dua kali.

BAB 38: ORANG YANG BERPUASA BERTAMU TANPA MEMBATALKAN PUASANYA KETIKA DIBERI HIDANGAN.

1982 Diriwayatkan dari Anas Radliyallaahu ‘anhu, dia berkata: Suatu ketika Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam berkunjung ke rumah Ummu Sulaim, kemudian ia menghidangkan kurma dan samin kepada beliau, lalu beliau bersabda, “Simpan kembali samin dan kurmamu, karena aku sedang berpuasa”. Kemudian Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam berdiri di salah satu ruangan dalam rumah itu untuk melaksanakan solat sunat. Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam mendoakan kebaikan untuk Ummu Sulaim dan keluarganya. Kata Ummu Sulaim, “Ya Rasulullah, saya mempunyai permintaan khusus”. Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bertanya, “Apa permintaanmu?” Ummu Sulaim mengatakan, “Doakanlah Anas, pelayan anda”. Kata Anas: Maka Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam tidaklah meninggalkan kebaikan akhirat dan dunia melainkan beliau mendoakannya untuk saya. Beliau mendoakan saya, “Ya Allah, karuniailah dia harta, anak, dan keberkahan”. Dengan doa itu saya kemudian menjadi orang anshar yang terkaya dan saya diberitahu oleh Umainah, anak perempuan saya bahwa ketika Al-Hajjaj (panglima Abdul Malik bin Marwan, dari dinasti Umayyah) menyerbu Bashrah, keturunan saya yang terbunuh lebih dari 120 orang.

BAB 39: PUASA PADA AKHIR BULAN

1983 Diriwayatkan dari Imran bin Hushain Radliyallaahu ‘anhu bahwa Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bertanya kepada seorang laki-laki: “Hai ayah si fulan, apakah kamu berpuasa pada hari-hari akhir bulan ini (bulan Sya’ban)?” Laki-laki itu menjawab: “Tidak, ya Rasulullah”. Beliau bersabda: “Apabila kamu menyelesaikan puasamu (pada bulan Ramadhan), maka berpuasalah dua hari (pada bulan Syawal)”. Menurut riwayat lain, Imran bin Hushain mengatakan: Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bertanya kepada laki-laki tersebut, “Apakah kamu berpuasa pada hari-hari terakhir bulan Sya’ban)?”

BAB 40: PUASA PADA HAJI JUMAT

1986 Diriwayatkan dari Jabir Radliyallaahu ‘anhu bahwa dia ditanya: Apakah Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam melarang puasa sunat pada hari jumat? Dia menjawab: Ya (jika tidak disertai dengan hari sebelumnya atau sesudah jumat).

1986 Diriwayatkan dari Abu Ayyub bahwa ketika Juwairiyah binti Al Hartis Radliyallaahu ‘anhu sedang berpuasa sunat pada hari jumat, Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam mengunjunginya, kemudian beliau bertanya: “Apakah kemarin kamu sudah berpuasa?” Juwairiyah menjawab: “Tidak”. Beliau bertanya lagi: “Apakah besok kamu akan berpuasa?” Juwairiyah menjawab: “Tidak”. Maka beliau bersabda: “Kalau begitu sekarang berbukalah”.

BAB 41: BOLEHKAH MEMILIH HARI-HARI TERTENTU UNTUK BERIBADAH

1987 Diriwayatkan dari Alqamah bahwa Aisyah Radliyallaahu ‘anhu ditanya olehnya: “Apakah Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam beribadah dengan memilih hari-hari tertentu?” Aisyah Radliyallaahu ‘anhu menjawab: “Tidak. Ibadah Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam itu rutin. Tidak ada seorangpun di antara kalian yang mampu melaksanakan ibadah serperti Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam“.

BAB 42: BERPUASA PADA HARI-HARI TASYRIQ

1997 Diriwayatkan dari Aisyah Radliyallaahu ‘anhu dan Abdullah bin Umar Radliyallaahu ‘anhu, keduanya mengatakan: Tidak boleh berpuasa pada hari-hari Tasyriq kecuali orang yang tidak mampu memberikan hadyu (puasa yang dilaksanakan oleh orang yang berhaji yang tidak mampu memberikan hadyu/ hewan kurban, yaitu tiga hari pada saat berhaji dan tujuh hari ketika berada kembali di tempat asal).

BAB 43: BERPUASA PADA HARI ASYURA

2002 Diriwayatkan dari Aisyah Radliyallaahu ‘anhu, dia berkata: Orang-orang Quraisy pada masa Jahiliyyah berpuasa pada hari Asyura (10 Muharram). Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam juga berpuasa pada hari itu. Ketika Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam tiba di Madinah, beliau berpuasa pada hari Asyura dan memerintahkan orang-orang berpuasa pada hari itu. Ketika puasa Ramadhan diwajibkan, Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam meninggalkan puasa pada hari Asyura sehingga orang-orang bebas untuk berpuasa atau tidak, pada hari itu.

2004 Diriwayatkan dari Abdullah bin Abbas Radliyallaahu ‘anhu dia berkata: Setelah Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam tiba di Madinah, beliau melihat orang-orang Yahudi berpuasa pada hari Asyura, kemudian beliau bertanya, “Hari apa ini?” Mereka menjawab, “Ini hari baik. Pada hari ini Allah menyelamatkan Bani Israil dari musuh merek, maka Musa as berpuasa pada hari ini”. Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda, “Aku lebih berhak daripada kalian terhadap Musa as”. Kata Abdullah bin Abbas ra: Maka Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam berpuasa pada hari itu dan beliau menyuruh kaum muslimin berpuasa pula pada hari tersebut.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s