KITAB TENTANG SHOLAT ( BUKHARI )

BAB 1: BAGAIMANA SOLAT DIWAJIBKAN PADA MALAM ISRA

349 Diriwayatkan dari Anas bin Malik Radliyallaahu ‘anhu, dia berkata: Abu Dzarr menuturkan bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam pernah bersabda, “Ketika aku berada di Mekah, atap rumahku terbuka, kemudian Jibril turun menemuiku, lalu dia membelah dadaku dan membasuhnya dengan air Zam Zam. Jibril membawa nampan emas berisi hikmah (kebijaksanaan) dan iman, lalu dia menuangkannya ke dalam dadaku, setelah itu dia menutup kembali dadaku. Kemudian Jibril memegang tanganku, lalu dia mengajakku naik ke langit yang terendah. Sesampaiku di langit pertama Jibril berkata kepada penjaga langit, “Bukakan pintu”. Penjaga langit bertanya, “Siapa itu?” Jibril menjawab, “Aku Jibril”. Tanya penjaga langit selanjutnya, “Apakah ada seseorang yang menyertaimu?” Jibril menjawab, “Ya, aku bersama Muhammad Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam“. Tanya penjaga langit, “Apakah Muhammad sudah diutus?” Jibril menjawab, “sudah”. Setelah penjaga itu membukakan pintu langit pertama, aku dan Jibril memasukinya, tiba-tiba di situ ada seorang laki-laki sedang duduk dengan banyak orang di sebelah kanannya dan di sebelah kirinya. Ketika seorang laki-laki itu melihat ke kanan dia tertawa, namun ketika dia melihat ke kiri dia menangis. Kata seorang laki-laki itu, “Selamat datang seorang Nabi dan anakku yang baik”. Aku bertanya kepada Jibril, “Siapa orang ini?” Jibril menjawab, “Dia ini Adam, sedangkan di sebelah kanan dan kirinya adalah arwah anak cucunya. Mereka yang di sebelah kanannya adalah penghuni surga, sedangkan yang disebelah kirinya adalah penghuni neraka, karena itu ketika dia melihat ke kanan dia tertawa dan ketika dia melihat ke kiri dia menangis”. Kemudian Jibril mengajakku naik lagi ke langit kedua. Kata Jibril kepada penjaga langit, “Bukakan pintu”. Penjaga langit kedua bertanya kepada Jibril sebagaimana yang ditanyakan oleh penjaga langit pertama. Penjaga langit keduapun membukakan pintu. Kata Anas: Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam menuturkan bahwa di langit beliau bertemu dengan Nabi Adam, Nabi Idris, Nabi Musa, Nabi Isa, dan Nabi Ibrahim — semoga Allah selalu menambahkan rahmat-Nya kepada mereka — tanpa beliau jelaskan di langit ke berapa masing-masing mereka, namun beliau menuturkan bahwa beliau bertemu dengan Nabi Adam di langit terdekat/pertama dan bertemu Nabi Ibrahim di langit keenam. Kata Anas: Ketika Jibril bersama Nabi Muhammad Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bertemu dengan Nabi Idris. Nabi Idris berkata, “Selamat datang, seorang Nabi dan saudaraku yang baik”. Aku tanyakan kepada Jibril, “Siapa ini?” Jibril menjawab, “Dia ini Idris”. Kemudian aku bertemu dengan Musa. Dia mengucapkan, “Selamat datang, seorang Nabi dan saudaraku yang baik”. Aku tanyakan kepada Jibril, “Siapa ini?” Jibril menjawab, “Dia ini Musa”. Kemudian aku bertemu dengan Isa, dia mengucapkan, “Selamat datang, seorang Nabi dan saudaraku yang baik”. Aku tanyakan kepada Jibril, “Siapa ini?” Jibril menjawab, “Dia Isa”. Kemudian aku bertemu dengan Ibrahim, dia mengucapkan, “Selamat datang, seorang Nabi dan saudaraku yang baik”. Aku tanyakan kepada Jibril, “Siapa ini?” Jibril menjawab, “Dia ini Ibrahim”. . Kata Anas bin Malik: Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda, “Kemudian Allah mewajibkan kepada umatku 50 solat, lalu aku pulang dengan membawa perintah tersebut. Ketika aku bertemu dengan Musa, dia bertanya, “Apa yang telah diwajibkan oleh Allah kepada umatmu?” Aku menjawab, “Allah telah mewajibkan 50 solat”. Kata Musa, “Kembalilah kepada Tuhanmu (untuk meminta pengurangan) karena umatmu tidak akan mampu melaksanakan itu”. Aku pun kembali menemui Allah untuk memohon pengurangan, lalu Allah mengurangi separohnya. Aku kembali lagi bertemu Musa. Lalu aku beritahukan bahwa Allah telah mengurangi separoh dari 50 solat. Kata Musa, “Kembalilah kepada Tuhanmu lagi untuk memohon pengurangan, karena umatmu tidak akan mampu melaksanakannya”. Akupun kembali menemui Allah untuk memohon pengurangan, kemudian Allah mengurangi separohnya lagi. Aku kembali bertemu Musa, lalu aku ceritakan bahwa Allah telah mengurangi separohnya lagi. Kata Musa, “Kembalilah kepada Tuhanmu lagi untuk memohon pengurangan, karena umatmu tidak akan mampu melaksanakannya”. Akupun kembali lagi menemui Allah untuk memohon pengurangan, dan untuk kesekian kalinya Allah berfirman, “Perintah solat tinggal lima waktu, namun nilainya sebanding dengan solat 50 waktu, karena ketetapan-Ku tidak akan berubah”.

350 Diriwayatkan dari AIsyah, Ummul Mukminin Radliyallaahu ‘anhu, dia berkata: Ketika Allah pertama kali mewajibkan solat, Allah menentukan masing-masing solat dua rakaat, baik bagi orang yang tidak bepergian maupun bepergian, kemudian solat dua rakaat tersebut ditetapkan sebagai qashar ketiga bepergian, dan solat bagi orang yang tidak bepergian ditambah jumlah rakaatnya.

BAB 2: KEWAJIBAN SOLAT DENGAN BERPAKAIAN

354 Diriwayatkan dari Umar bin Abu Salamah Radliyallaahu ‘anhu, bahwa Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam pernah solat dengan satu pakaian yang disilangkan antar dua ujungnya (agar menutupi kedua pundaknya).

BAB 3: SOLAT DENGAN SATU PAKAIAN YANG MENUTUPI SELURUH TUBUH

353 Diriwayatkan dari Ummu Hani binti Abu Thalib Radliyallaahu ‘anhu, dia berkata mengenai solat Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam pada hari penaklukan Mekah (Sebagaimana hadis nomor 199 di muka).

357 Diriwayatkan dari Ummu Hani binti Abu Thalib Radliyallaahu ‘anhu, tentang solat Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam yang disebutkan dalam riwayat di muka. Kata Ummu Hani: Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam mengerjakan solat 8 rakaat dengan menutup satu pakaian pada tubuhnya. Setelah beliau selesai, saya bertanya: “Ya Rasulullah, saudara laki-laki saya mengatakan bahwa dia akan membunuh seorang laki-laki yang saya lindungi, yaitu si fulan bin hubayrah”. Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda, “Hai Ummu Hani, kami akan melindungi orang yang kamu lindungi”. Kata Ummu Hani, “Peristiwa tersebut pada saat Dhuha (pagi sebelum tengah hari)”.

358 Diriwayatkan dari Abu Hurairah Radliyallaahu ‘anhu, bahwa seseorang bertanya kepada Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam mengenai solat dengan satu pakaian, kemudian Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam menjawab: “Apakah setiap orang pasti memiliki dua pakaian?”

BAB 4: JIKA SESEORANG SOLAT DENGAN SATU PAKAIAN, SILANGKANLAH AGAR MENUTUPI DUA BAHUNYA/PUNDAKNYA.

359 Diriwayatkan dari Abu Hurairah Radliyallaahu ‘anhu, dia berkata: Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam pernah bersabda, “Seseorang tidak boleh solat dengan satu pakaian yang kedua pundaknya tidak tertutup sama sekali”.

360 Diriwayatkan dari Abu Hurairah Radliyallaahu ‘anhu, dia berkata: Saya bersaksi bahwa saya pernah mendengar Rasulullah bersabda, “Siapapun solat dengan satu pakaian, silangkanlah antara kedua ujungnya (agar menutupi kedua bahunya)”.

BAB 5: APABILA PAKAIAN YANG DIKENAKAN SEMPIT

361 Diriwayatkan dari Jabir Radliyallaahu ‘anhu, dia berkata: Saya pernah menyertai Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam dalam suatu perjalanan. Pada suatu malam saya menemui beliau untuk suatu keperluan, namun ketika itu saya mendapati beliau sedang melakukan solat dan saya sedang mengenakan satu pakaian yang saya tutupkan ke tubuh saya, kemudian saya solat di samping beliau. Setelah selesai, beliau bertanya, “Hai Jabir, ada keperluan apakah kamu datang ke sini?” Saya menuturkan keperluan saya kepada beliau. Setelah saya selesai bicara, Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bertanya, “Pakaian apa yang aku lihat menutupi tubuhmu?” Saya menjawab, “Ini pakaian sempit”. Sabda Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam, “Jika pakaianmu longgar tutupkanlah (pada kedua bahumu), dan jika pakaianmu sempit sarungkanlah (pada pinggangmu)”.

362 Diriwayatkan dari Sahl Radliyallaahu ‘anhu, dia berkata: Para lelaki solat bersama Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam dengan melilitkan pakaian mereka pada leher mereka sebagaimana cara anak-anak berpakaian, kemudian dikatakan oleh Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam kepada para wanita, “Janganlah kalian mengangkat kepala sebelum para lelaki duduk tegak setelah sujud”.

BAB 6: SOLAT DENGAN BERJUBAH BUATAN SYAM/SYRIA

363 Diriwayatkan dari Al-Mughirah bin Syu’bah Radliyallaahu ‘anhu, dia berkata: Saya pernah menyertai Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam dalam suatu perjalanan, lalu Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda, “Hai Mughirah, ambilkanlah aku air dalam bejana. Lalu sayapun mengambilnya, kemudian Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam pergi menjauh sehingga tidak terlihat oleh saya untuk buang hajat dengan mengenakan jubah syria. Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam ingin mengeluarkan tangannya dari lengan jubah itu tetapi tidak bisa karena sempit, sehingga beliau mengeluarkan tangannya dari bagian bawah jubah. Seusai buang hajat saya menuangkan air kepada beliau, lalu beliau berwudu sebagaimana wudu untuk solat dengan mengusapkan air pada sepasang khuffnya, kemudian beliau melakukan solat.

BAB 7: LARANGAN TELANJANG KETIKA SOLAT.

364 Diriwayatkan dari Jabir bin Abdullah Radliyallaahu ‘anhu, dia berkata: Bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam pernah mengangkut batu untuk memperbaiki Ka’bah dengan mengenakan kain sarung bersama orang banyak, lalu paman beliau, Abbas menyarankan: “Hai kemenakanku, sebaiknya engkau lepas saja kain sarungmu itu lalu lilitkan pada kedua pundakmu agar tidak mengganggumu ketika engkau membawa batu”. Kata Jabir: Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam kemudian melepas kain sarungnya lalu beliau lilitkan pada kedua pundaknya, kemudian beliau jatuh sehingga pingsan. Setelah itu Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam tidak pernah lagi terlihat telanjang.

BAB 8: MENUTUP AURAT

367 Diriwayatkan dari Abu Sa’id Al-Khudri Radliyallaahu ‘anhu, dia berkata: Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam melarang menutupkan pakaian ke seluruh tubuh sehingga kedua tangan tidak bisa bergerak leluasa, juga melarang seseorang duduk dengan merangkul kedua lutut yang hanya berpakaian satu sehingga kemaluannya tampak.

368 Diriwayatkan dari Abu Hurairah Radliyallaahu ‘anhu, dia berkata: Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam melarang dua jual beli: 1) Jual beli dengan cara limas1, dan 2) Jual beli anggur (atau bahan lain) yang sudah dijadikan minuman keras. Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam juga melarang seseorang menutup pakaian ke seluruh tubuh sehingga kedua tangannya tidak bisa bergerak leluasa, serta melarang seseorang yang hanya mengenakan satu pakaian duduk dengan merangkul kedua lutut sehingga kemaluannya terlihat.

1): Penjual mengatakan: “Jika kamu menyentuh pakaianku, maka kamu harus membeli barang daganganku (tanpa mengetahui kondisi barang tersebut)”.

369 Diriwayatkan dari Abu Hurairah Radliyallaahu ‘anhu, dia berkata: Abu Bakr Radliyallaahu ‘anhu (sebagai ketua rombongan haji) menugasi saya bersama para petugas yang lain pada hari Nahr (10 Dzulhijjah sebelum haji wada) untuk mengumumkan di Mina, “Setelah tahun ini orang musyrik tidak boleh berhaji dan orang yang telanjang tidak boleh tawaf di Baitullah. “Berikutnya Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam menugaskan Ali untuk memberitahukan surat Al-Baraa’ah kepada kaum muslimin. Kata Abu Hurairah: Ali bersama kami menyampaikan pemberitahuan pada hari Nahr, “Setelah tahun ini orang musyrik tidak boleh berhaji dan orang yang telanjang tidak boleh tawaf di Baitullah”.

BAB 9: PAHA

371 Diriwayatkan dari Anas Radliyallaahu ‘anhu, bahwa ketika Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam menyerang Khaybar, kami mengerjakan solat Subuh di sana ketika cuaca masih gelap. Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam menunggang hewan tunggangannya, begitu pula Abu Thalhah, sedangkan saya dibonceng Abu Thalhah. Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam melewati lorong-lorong Khaybar, dan lutut saya menyentuh paha Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam. Kemudian beliau menutup kembali pahanya namun saya sempat melihat putihnya paha Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam. Ketika Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam memasuki perkampungan, beliau mengucapkan: “Allahu Akbar! Hancurlah Khaybar. Sesungguhnya apabila kami memasuki halaman suatu kaum, maka sungguh sial pagi hari yang dialami oleh-oleh yang diperingatkan”. Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam mengulang ucapan itu tiga kali. Kata Anas: Orang-orang khaybar mulai keluar menuju pencaharian mereka, tiba-tiba mereka berteriak, “Muhammad datang dengan pasukannya!” kata Anas: Kami akhirnya menaklukan Khaybar dan para tawanan pun dikumpulkan. Dhiyah mendatangi Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam. Kata dihyah, “Wahai Nabi, berilah saya seorang tawanan perempuan”. Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam menjawab, “Pergilah, ambil mana yang kamu suka”. Dihyah memilih shafiyyah binti Huyay. Kemudian ada seorang laki-laki melapor kepada Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam, “Wahai Nabi, mengapa anda berikan shafiyyah binti Huyay kepada Dihyah, padahal shafiyyah itu istri pemimpin Bani Qurayzhah dan Bani Nadhir yang hanya selayaknyalah anda miliki sendiri”. Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda, “Panggilah kemari Dihyah dan Shafiyyah”. Dihyah datang bersama Shafiyyah. Ketika Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam melihat Shafiyyah, beliau berkata kepada Dihyah, “Ambilah tawanan perempuan selain Shafiyyah”. Kemudian beliau menikahinya dengan menjadikan pemerdekaan tersebut sebagai maskawinnya. Sementara Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam dalam perjalanan, Ummu Sulaym merias Shafiyyah, lalu pada malam harinya Ummu Sulaym mengantarkannya kepada Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam, sehingga keesokan harinya Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam menjadi pengantin. Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda, “Siapa yang memiliki makanan bawalah kemari”. Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam membentangkan tikar kulit. Mulailah ada seorang yang datang membawa kurma, ada pula yang membawa mentega. Kata perawi: saya kira yang dimaksud Anas adalah kue Shallallaahu ‘alaihi wa Sallamiq. Kata Anas: Orang-orang juga menyiapkan hays (jenis makanan yang bahannya dicampur dengan daging), dan berlangsunglah walimah pernikahan Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam.

BAB 10: PAKAIAN PEREMPUAN KETIKA SOLAT.

372 Diriwayatkan dari AIsyah Radliyallaahu ‘anhu, dia berkata: Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam mengerjakan solat Subuh dengan disertai orang-orang perempuan yang beriman dengan mengenakan pakaian yang menutupi seluruh tubuh mereka, lalu mereka pulang ke rumah tanpa bisa dikenali oleh siapapun”.

BAB 11: ORANG YANG SOLAT DENGAN PAKAIAN BERGAMBAR.

373 Diriwayatkan dari AIsyah Radliyallaahu ‘anhu, dia berkata: Suatu ketika Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam mengerjakan solat dengan mengenakan pakaian khamishah yang bergambar. Beliau sempat melihat gambar tersebut di dalam solat. Seusai solat beliau bersabda: “Bawalah pakaian ini kepada Abu Jahm dan sebagai penggantinya bawakan untukku pakaian anbijaniyah1 milik Abu Jahm, karena pakaian yang bergambar ini membuatku tidak konsentrasi dalam solatku”.

1): Wol polos tanpa gambar.

BAB 12: BATALKAH SOLAT ORANG YANG PAKAIANNYA BERGAMBAR SALIB ATAU GAMBAR LAIN?

374 Diriwayatkan dari Anas Radliyallaahu ‘anhu, AIsyah memiliki kain qiram (wol tipis bergambar) yang dia pergunakan untuk tabir pada bagian rumahnya, lalu Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Singkirkanlah kain qiram itu, karena gambar-gambarnya mengganggu konsentrasiku dalam solat”.

BAB 13: SOLAT DENGAN FARRUJ (PAKAIAN LUAR DENGAN MODEL PUNGGUNG TERBUKA) DARI SUTERA, KEMUDIAN MELEP

375 Diriwayatkan dari Uqbah bin Amir Radliyallaahu ‘anhu, dia berkata: Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam mendapat hadiah farruj sutera, kemudian beliau memakainya untuk solat. Seusai solat beliau melepasnya dengan keras sepertinya beliau tidak menyukainya. Beliau bersabda, “Pakaian ini tidak pantas bagi orang-orang yang bertakwa”.

BAB 14: SOLAT DENGAN PAKAIAN MERAH.

376 Diriwayatkan dari Abu Juhayfah Radliyallaahu ‘anhu, dia berkata: Saya pernah melihat Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam berada di dalam tenda berwarna merah, saya juga melihat Bilal mengambil air sisa wudu Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam. Saya melihat orang-orang berebut mendapatkan air tersebut. Orang yang bisa mendapatkan sedikit air, dia mengusapkannya pada tubuhnya, dan orang yang tidak berhasil memperoleh air itu hanya menyentuh tangan temannya yang basah. Kemudian saya melihat Bilal mengambil azanah (tongka yang ujungnya bercabang), lalu dia menancapkannya di tanah (sebagai pembatas dalam solat). Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam keluar dengan mengenakan baju merah, kemudian beliau solat dua rakaat mengimami orang-orang dengan azanah di depan beliau. Saya melihat orang-orang dan hewan lalu lalang di luar batas azanah tersebut.

BAB 15: SOLAT DI ATAS ATAP, MIMBAR ATAU KAYU

377 Diriwayatkan dari Sahl bin Sa’d Radliyallaahu ‘anhu bahwa dia pernah ditanya: “Terbuat dari apa mimbar Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam?” Sahl menjawab: “Tidak ada orang yang lebih tahu daripada saya tentang mimbar itu yang sekarang masih hidup. Mimbar tersebut dibuat dari kayu hutan pilihan yang dikerjakan oleh si fulan budak si fulanah, atas permintaan Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam. Setelah selesai pengerjaannya dan diletakkan pada tempatnya, Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam berdiri untuk solat di atas mimbar itu dengan menghadap kiblat dan bertakbir, sementara orang-orang berdiri (solat) di belakang beliau. Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam membaca surat Fatihah dan ayat-ayat lain, kemudian beliau ruku, orang-orang pun turut ruku di belakang beliau, kemudian beliau mengangkat kepala, lalu beliau mundur sedikit, kemudian beliau sujud di atas tanah, lalu beliau kembali lagi ke atas mimbar, kemudian beliau membaca surat Fatihah dan ayat-ayat lain, lalu beliau ruku, kemudian beliau mengangkat kepala, lalu beliau mundur sedikit, sampai beliau bersujud di atas tanah. Begitulah tentang mimbar Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam“.

BAB 16: SOLAT DI ATAS TIKAR DARI DAUN KURMA

380 Diriwayatkan dari Anas bin Malik Radliyallaahu ‘anhu bahwa neneknya, Mulaykah Radliyallaahu ‘anhu pernah mengundang makan Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam dengan makanan yang dia masak sendiri. Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam memakan sebagian hidangan tersebut, kemudian beliau bersabda: “Berdirilah, aku akan mengimami kalian solat”. Kata Anas: Saya berdiri untuk mengambil tikar dari daun kurma yang telah nampak agak hitam karena lamanya dipakai, kemudian saya mencucinya dengan air, lalu Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam berdiri di atas tikar itu, sementara saya dengan seorang anak yatim berdiri di belakang beliau, sedangkan nenek saya berdiri di belakang kami, lalu Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam mengimami kami solat dua rakaat, setelah itu beliau pulang.

BAB 17: SOLAT DI ATAS TEMPAT TIDUR

382 Diriwayatkan dari AIsyah Radliyallaahu ‘anhu, istri Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam, dia berkata: Saya pernah tidur di hadapan Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam dengan posisi kedua kaki saya menghalangi kiblat beliau. Ketika Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam berwujud, beliau menyisihkan kaki saya lalu saya mengangkatnya. Ketika Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam berdiri, saya menjulurkan kaki saya lagi. Kata AIsyah: ketika itu di rumah tidak ada cahaya lampu.

38 Diriwayatkan dari AIsyah Radliyallaahu ‘anhu, bahwa suatu ketika Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam solat di atas tempat tidur saya, sedangkan saya ketika itu terbaring melintang bagai jenazah di antara beliau dengan kiblat.

BAB 18: SUJUD DI ATAS PAKAIAN KETIKA CUACA SANGAT PANAS.

385 Diriwayatkan dari Anas bin Malik Radliyallaahu ‘anhu, dia berkata: Suatu ketika kami solat dengan diimami oleh Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam dan salah seorang di antara kami menaruh ujung pakaiannya di tempat sujud (sebagai alas) karena cuaca sangat panas.

BAB 19: SOLAT DENGAN BERALAS KAKI (SANDAL ATAU SEPATU)

386 Diriwayatkan dari Anas bin Malik Radliyallaahu ‘anhu bahwa dia pernah ditanya: “Pernahkah Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam salat dengan memakai terompah?” Anas menjawab: “Ya pernah”.

BAB 20: SOLAT DENGAN MEMAKAI KHUFF (KAOS KAKI KULIT)

387 Diriwayatkan dari Ibrahim bahwa Hammam bin Al-Harits mengatakan: Saya pernah melihat Jarir bin Abdullah kencing, setelah beristinja dia berwudu dengan mengusapkan air pada sepasang khuffnya, lalu dia berdiri untuk melakukan solat (tanpa melepas khuffnya). Kemudian dia ditanya mengenai wudu dan solat tersebut, lalu dia menjawb, “Saya pernah melihat Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam melakukan seperti ini”. Para ulama hadis merasa kagum dengan riwayat Jariri ini, karena walaupun Jarir termasuk orang yang masuk Islam periode akhir namun dia sempat menyaksikan Nabi sa berwudu dan solat dengan memakai khuff.

BAB 21: MENAMPAKKAN KETIAK KETIKA BERSUJUD.

390 Diriwayatkan dari Abdullah bin Malik bin Buhaynah Radliyallaahu ‘anhu bahwa ketika Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersujud dalam solat, beliau merenggangkan kedua tangannya sehingga ketiaknya yang putih tampak.

BAB 22: KEUTAMAAN MENGHADP KIBLAT DALAM SOLAT.

391 Diriwayatkan dari Anas bin Malik Radliyallaahu ‘anhu, dia berkata: Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam pernah bersabda, “Siapa yang solat seperti kami dengan menghadap ke kiblat kami dan makan binatang dengan disembelih seperti cara kami, maka dia adalah seorang muslim yang berada dalam perlindungan Allah dan perlindungan Rasul-Nya, maka janganlah kalian mengkhianati Allah dengan mengkhianati orang dalam perlindungan-Nya.

BAB 23: FIRMAN ALLAH: “JADIKANLAH MAKAM IBRAHIM SEBAGAI TEMPAT SOLAT”

395 Diriwayatkan dari Ibnu Umar Radliyallaahu ‘anhu bahwa dia pernah ditanya mengenai orang yang sudah melakukan tawaf umrah namun dia belum melakukan sa’I antara shafa dan marwah, bolehkah orang tersebut melakukan persetubuhan? Ibnu Umar menjawab: “Ketika Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam tiba di mekah, beliau melakukan tawaf di Baitullah tujuh kali putaran, kemudian beliau mengerjakan solat dua rakaat di belakang makam Ibrahim, lalu beliau melakukan sa’I antar ashafa dan marwah, sedangkan pada diri Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam itu terdapat teladan yang baik bagi kalian (maksudnya: tidak boleh bersetubuh sebelum selesai mengerjakan sa’I).

398 Diriwayatkan dari Ibnu Abbas Radliyallaahu ‘anhu, dia berkata: Ketika Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam memasuki Baitullah, beliau berdoa pada tiap-tiap sudutnya dan beliau tidak melakukan solat sehingga beliau keluar dari Ka’bah. Setelah beliau keluar, beliau mengerjakan solat dua rakaat dengan menghadap Ka’bah dan bersabda, “Ini adalah kiblat”.

BAB 24: MENGHADAP KE KIBLAT DI MANAPUN SESEORANG SEDANG SOLAT.

399 Diriwayatkan dari Al-Barra Radliyallaahu ‘anhu, dia berkata: Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam solat menghadap ke Bait Al-Maqdis selama 16 atau 17 bulan (sebelum turunnya ayat yang berisi perintah menghadap ke Ka’bah)”. Ada perbedaan lafal antara hadis ini dengan hadis sebelumnya yang isinya sama.

400 Diriwayatkan dari Jabir Radliyallaahu ‘anhu, dia berkata: Ketika di atas kendaraan, Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam mengerjakan solat sunat dengan menghadap ke arah manapun sesuai dengan arah yang dituju oleh kendaraannya. Apabila beliau hendak melakukan fardu, beliau turun, kemudian beliau solat dengan menghadap kiblat.

401 Diriwayatkan dari Abdullah bin Mas’ud Radliyallaahu ‘anhu, dia berkata: Suatu ketika Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam solat. Pada riwayat lain Ibrahim menuturkan dari Al-Qamah, dari Abdullah bin Mas’ud. Kata Abdullah bin Mas’ud: saya tidak tahu apakah Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam ketika itu menambah atau mengurangi salatnya. Setelah salam, Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam ditanya, “Ya Rasulullah, apakah ada ketentuan baru mengenai solat?” Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bertanya, “Apa maksudnya?” Para sahabat mengatakan, “Tadi anda solat begini dan begini, tidak seperti biasanya”. Kemudian Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam menekukkan kedua kakinya dengan menghadap ke kiblat, lalu beliau berwujud sahwi dua kali, setelah itu beliau melakukan salam, ketika Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam menghadapkan wajahnya ke arah kami sesudah salam, beliau bersabda, “Kalau ada ketentuan baru mengenai solat niscaya aku beritahukan kepada kalian, tetapi aku ini manusia seperti kalian, aku juga pernah lupa sebagaimana kalian. Karena itu jika aku lupa, maka ingatkanlah aku. Apabila seorang ragu-ragu (tentang hitungan rakaat atau rukun-rukun yang telah dilakukan) di dalam solat, hendaklah ia memastikan apa yang dia anggap benar1, lalu hendaklah ia menyempurnakan apa yang dia anggap kurang, kemudian melakukan salam dan bersujud sahwi dua kali.2

1): Misalnya seseorang ragu-ragu dalam solat Asar,apakah dia usdah menjalani dua rakaat ataukah tiga rakaat, maka yang dianggap benar adalah dua rakaat, berarti masih kurang dua rakaat lagi dan dia disunatkan berwujud sahwi dua kali sujud. 2): Sujud sahwi dilakukan seusai membaca tahiyat akhir. Jika sesudah salam baru teringat bahwa dia belum bersujud sahwi, maka sujud sahwi dilakukan sesudah salam itu.

BAB 25: AYAT TENTANG KIBLAT DAN MAKAM IBRAHIM, SERTA TIDAK MENGHADAP KIBLAT KETIKA SOLAT.

402 Diriwayatkan dri Umar Radliyallaahu ‘anhu, dia berkata: Tiga harapan saya diperkeankan oleh Tuhan: 1) Saya pernah mengusulkan, “Ya Rasulullah, sebaiknya makam Ibrahim kita jadikan tempat solat”. Maka turunlah ayat (yang artinya), “Dan jadikanlah makam Ibrahim sebagai tempat solat (sunat dua rakaat saat tawaf)”. (Al Quran, surah Al Baqarah: 125). 2) Ayat hijab. Saya pernah mengusulkan, “Ya Rasulullah, sebaiknya anda perintahkan istri-istri anda semua memakai hijab, karena laki-laki yang berbicara dengan istri-istri anda ada yang baik dan ada yang jahat. Maka turunlah ayat tentang hijab”. 3) Suatu ketika para istri Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersekongkol untuk menentang beliau, kemudian saya berkata kepada mereka, “Jika Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam menceraikan kalian semua, semoga Allah memberi beliau istri-istri pengganti yang lebih baik daripada kalian”. Maka turunlah ayat yang bunyinya seperti itu (di dalam surat At-Tahrim, ayat 5)”.

BAB 26: MEMBUANG INGUS/DAHAK DARI MASJID DENGAN TANGAN

405 Diriwayatkan dari Anas Radliyallaahu ‘anhu, bahwa suatu ketika Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam melihat ludah/ingus/dahak di arah kiblat pada dinding masjid, hal itu membuat beliau tidak senang sehingga raut wajahnya tampak berubah. Kemudian beliau berdiri lalu membuang dahak/ludah/ingus tersebut dengan tangan beliau sendiri. Beliau bersabda: “Sesungguhnya seseorang yang berdiam dalam solat itu sedang berbicara dengan Tuhannya dan Tuhannya berada di antara orang yang solat tersebut dan kiblat (Tuhannya berada di depan orang yang solat), karena itu dia tidak boleh meludah ke arah kiblat, tetapi jika terpaksa, meludahlah ke arah kiri atau di bawah telapak kaki (saat itu lantai masjid berupa tanah biasa). Atau jika terpaksa meludahlah sebagai berikut: Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam memperagakan dengan memegang ujung pakaiannya, kemudian beliau meludah di ujung pakaian itu, lalu beliau melipat-lipatnya”.

BAB 27: TIDAK BOLEH MELUDAH KE KANAN KETIKA SOLAT.

410 Diriwayatkan dari Abu Hurairah Radliyallaahu ‘anhu, dan Abu Sa’id ra: Sama dengan hadis sebelumnya tentang meludah di masjid, namun ada lanjutannya sebagai berikut: “… dan janganlah meludah ke arah kanan”.

BAB 28: KAFFARAT MELUDAH DI MASJID.

415 Diriwayatkan dari Anas Radliyallaahu ‘anhu, dia berkata: Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam pernah bersabda, “Meludah di masjid adalah perbuatan dosa dan kaffaratnya (dendanga) adalah menguruk ludah tersebut (maksudnya: membuangnya)”.1

1): saat itu lantai masjid berupa tanah biasa, maka ludah akan hilang dengan diuruk atau dipendam.

BAB 29: NASEHAT UNTUK MENYEMPURNAKAN SOLAT DAN MENGINGATKAN TENTANG KIBLAT.

418 Diriwayatkan dari Abu Hurairah Radliyallaahu ‘anhu, bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam pernah bersabda kepada peserta solat jamaah: “Apakah karena aku menghadap kiblat lalu kalian mengira aku tidak bisa melihat kalian? Demi Allah, aku mengetahui kekhusyu’an solat kalian, karena aku bisa melihat kalian meskipun kalian berada di belakangku”.

BAB 30: BOLEHKAH MENYEBUT: “INI MASJID SUKU ANU”.

420 Diriwayatkan dari Abdullah bin Umar Radliyallaahu ‘anhu, bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam pernah menganjurkan penyelenggaraan pacuan kuda. Kuda-kuda yang terlatih menempuh jarak dari Al-Hafya menuju Tsaniyyatul Wada’, sedangkan kuda-kuda yang tidak terlatih menempuh jarak dari Tsaniyyah menuju masjid suku Zuraiq. Ketika itu Abdullah bin Umar turut dalam pacuan kuda tersebut.

BAB 31: MEMBAGIKAN HARTA DAN MENGGANTUNGKAN TANDAN KURMA DI MASJID.

421 Diriwayatkan dari Anas Radliyallaahu ‘anhu, dia berkata: Sejumlah harta dari Bahrain diterimakan kepada Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam, kemudian beliau bersabda, “Bagikanlah harta itu di masjid”. Harta tersebut terhitung paling banyak dibanding dengan harta lain yang pernah diterimakan kepada Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam. Kemudian Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam keluar untuk melakukan solat tanpa menoleh kepada harta itu. Seusai solat beliau mendekat dan duduk di samping harta itu. Setiap orang yang beliau lihat di masjid itu beliau beri jatah dari pembagian harta tersebut. Tiba-tiba Abbas datang, kemudian dia berkata, “Ya Rasulullah, berilah saya jatah, karena saya baru saja mengeluarkan uang untuk membayar tebusan diri saya dan Aqil”. Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam menjawab, “Silahkan ambil”. Abbas kemudian meletakkan harta yang diambilnya di dalam pakaiannya lalu dia hendak mengangkatnya untuk dibawa namun dia tidak kuat. Kata Abbas, “Ya Rasulullah, suruhlah seseorang untuk membantu saya”. Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam menjawab, “Tidak usah. Angkat sja sendiri”. Kata Abbas, “Kalau begitu anda saja yang membantu saya untuk mengangkat harta ini ke atas pundak saya”. Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam menjawab, “Tidak usah”. Kemudian Abbas mengurangi harta itu, sehingga dia mampu mengangkatnya sendiri dengan diletakkan di atas pundaknya, lalu dia membawa pergi harta itu. Pandangan Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam selalu mengikut kepergian Abbas sehingga dia tidak terlihat oleh kami. Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam merasa heran dengan kerakusan Abbas. Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam tidak beranjak dari tempat itu sampai kepingan mata uang terakhir habis dibagikan.

BAB 32: TEMPAT SOLAT DI DALAM RUMAH.

425 Diriwayatkan dari Mahmud bin Ar-Rabi Al-Anshori Radliyallaahu ‘anhu, bahwa Itban bin Malik — seorang sahabat Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam dan termasuk kaum Anshar yang turut dalam perang Badr — datang kepada Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam, kemudian dia berkata: “Ya Rasulullah, saya menjadi imam solat di kampung saya, tetapi penglihatan saya sudah tidak normal. Ketika hujan turun dengan deras, saya tidak bisa datang ke masjid untuk mengimami solat karena terhalang oleh banjir. Karena itu, saya mohon agar anda berkenan datang ke rumah saya untuk solat, lalu tempat yang anda pergunakan untuk solat di dalam rumah saya itu akan saya jadikan sebagai mushalla (tempat solat)”. Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam menjawab, “Insya Allah aku akan memenuhi permohonanmu”. Kata Itban: “Esoknya Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam datang ke rumah saya bersama Abu Bakr sehabis tengah hari. Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam mohon izin untuk masuk, lalu saya pun menyilahkannya. Beliau tidak duduk sampai beliau masuk ke rumah, lalu beliau bertanya: “Mana tempat yang kau inginkan untuk aku tempati solat di rumahmu ini?” Kata Itban: “Saya menunjuk ke salah satu sudut di dalam rumah saya, kemudian Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam berdiri lalu bertakbir, dan kamupun berdiri dengan membentuk shaf. Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam melakukan solat dua rakaat dan mengakhirinya dengan salam”. Kata Itban: “Kami menyilakan Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam tinggal sejenak untuk mencicipi kharizah (jenis makanan) yang telah kami persiapkn untuk beliau”. Kata Itban: “Beberapa orang anggota keluarga berkumpul di rumah kami, lalu salah seorang dari mereka menanyakan, “Mana Malik bin Dukhaisyin atau putra Dukhaisyin?” Ada seseorang yang menjawab, “Dia orang munafik yang tidak menyukai Allah dan rasulNya”. Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda, “Jangan berkata seperti itu, bukankah Malik bin Dukhaisyin sudah mengucapkan Laa ilaaha illallaah dengan mengharap ridha Allah?”. Orang tersebut menjawab, “Allah dan rasul-Nya lebih tahu”. Kata Itban: “Kami menganggap Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam dengan nasehatnya itu menguntungkan orang-orang munafik. Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda, “Sesungguhnya Allah mengharamkan neraka bagi orang yang telah mengucapkan Laa ilaaha illallaah dengan mengharap keridhaan Allah semata”.1

1): indikatornya adalah menjalani semua perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya.

BAB 33: BOLEHKAH MEMBONGKAR KUBURAN ORANG-ORANG MUSYRIK MASA JAHILIYAH LALU DI TEMPAT ITU DIDIRIKAN

427 Diriwayatkan dari AIsyah Radliyallaahu ‘anhu, bahwa Ummu Habibah dan Ummu Salamah menuturkan gereja yang pernah mereka lihat di Ethiopia (Habasyah) yang di dalamnya terdapat beberapa gambar/lukisan. Keduanya menuturkan hal itu kepada Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam, kemudian beliau bersabda: “Apabila salah seorang pemimpin mereka mati, mereka mendirikan tempat peribadatan di atas kuburnya dan memasang gambar-gambar/ lukisan-lukisan tersebut di situ. Mereka adalah orang yang paling jelek pada hari kiamat”.

428 Diriwayatkan dari Anas Radliyallaahu ‘anhu, dia berkata: Ketika Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam tiba di Madinah, beliau berhenti di tempat yang tinggi di Madinah di perkampungan suku Amru bin Auf. Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam menetap di situ selama 14 mlam. Setelah itu Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam mengirim utusan kepada Bani Najjar, lalu merekapun berdatangan dengan menyandang pedang. Sepertinya saya melihat Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam berada di atas ona dan di belakang beliau ada Abu Bakr (yang dibonceng oleh Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam), sedangkan orang-orang dari Bani Najjar berada di sekeliling beliau, sampai beliau menghentikan ontanya di halaman rumah Abu Ayyub. Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam selalu senang segera melakukan solat jika telah tiba waktunya. Beliau pernah melakukan solat di atas tanah bekas kandang kambing. Beliau menyuruh membangun masjid. Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam mengutus seseorang untuk mengundang orang-orang suku Najjar. Beliau bertanya: “Wahai suku Najjar, berilah harga tanah kalian ini untuk aku beli”. Mereka menjawab: “Demi Allah, tidak usah. Kami tidak meminta harganya, kami hanya menginginkan ridha Allah”. Kata Anas: Saya katakan kepada kalian bahwa di tanah tersebut banyak kuburan orang-orang musyrik, tanahnya tidak rata dan di situ terdapat pohon-pohohn kurma. Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam menyuruh membongkar kuburan orang-orang musyrik tersebut, lalu tanahnya yang terjal itu pun diratakan, dan pohon-pohon kurma di situ ditebangi, dan pohon-pohon kurma hasil tebangan itu dipergunakan untuk dinding masjid di arah kiblat, sedangkan dinding yang samping mereka buat dari batu. Mereka mengangkut batu bersama-sama dan Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam pun turut berpartisipasi sambil mendendangkan bait puisi (yang artinya): “Ya Allah, kebaikan sejati adalah kebaikan akhirat. Karena itu, ampunilah orang-orang Anshar dan orang-orang Muhajirin”.

BAB 34: SOLAT DI TEMPAT PEMBERHENTIAN ONTA.

430 Diriwayatkan dari Nafi bahwa Abdullah bin Umar pernah melakukan solat dengan menambatkan ontanya di depannya. Kata Abdullah bin Umar ra: “Saya pernah melihat Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam melakukan solat seperti ini”.

BAB 35: TUNGKU ATAU SESEMBAHAN LAIN DITAMPAKKAN DI DEPAN ORANG YANG SEDANG SOLAT, NAMUN DIA TETAP BE

431 Diriwayatkan dari Anas bin Malik Radliyallaahu ‘anhu, dia berkata: Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam pernah bersabda, “Ketika aku sedang mengerjakan solat, api neraka diperlihatkan (oleh Allah) di depanku”.

BAB 36: LARANGAN SOLAT DI KUBURAN (KECUALI SALAT JENAZAH).

432 Diriwayatkan dari Abdullah bin Umar Radliyallaahu ‘anhu, bahwa Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam pernah bersabda: “Lakukanlah solat sunat di rumahmu dan janganlah kamu jadikan rumahmu seperti kuburan”.

BAB 37: LAKNAT ALLAH BAGI ORANG YANG MENDIRIKAN TEMPAT IBADAH DI ATAS KUBUR.

435 Diriwayatkan dari AIsyah dan Abdullah bin Abbas Radliyallaahu ‘anhu, ketika Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam kesehatannya menurun pada saat-saat akhir hidupnya, Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam menutupkan kain khamishahnya (selimut wolnya) pada wajahnya, namun beliau melepas kain tersebut dari wajahnya ketika merasa nafasnya semakin teragnggu seraya bersabda: “Laknat Allah untuk orang-orang Yahudi dan Nasrani yang menjadikan kuburan para Nabi mereka sebagai tempat peribadatan”. Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam memberi peringatan kepada kaum muslimin agar tidak meniru orang-orang Yahudi dan Nasrani.

BAB 38: PEREMPUAN TIDUR DI MASJID.

439 Diriwayatkan dari AIsyah Radliyallaahu ‘anhu, bahwa Walidah yang berkulit hitam adalah perempuan milik salah satu suku Arab, kemudian mereka memerdekakannya namun dia tetap tinggal bersama mereka. Kata AIsyah: Suatu ketika, ada seorang gadis kecil dari suku tersebut keluar dengan mengenakan selendang kulit berwarna merah dengan dihiasi batu-batu berharga. Kata AIsyah: Kemudian batu berharga tersebut di letakkan atau terjatuh, lalu ada seekor burung di dekat batu berharga yang terjatuh itu kemudian dia menyambarnya karena dikiranya daging. Kata AIsyah: Mereka mencari batu berharga tersebut namun tidak mereka temukan, lalu mereka menuduh Walidah mencuri batu itu. Mereka menggeledah bahkan sampai memeriksa kemaluan Walidah. Kata Walidah, Demi Allah, ketika saya masih berdiri bersama mereka, tiba-tiba burung yang telah menyambar batu tadi datang lagi dan menjatuhkan batu tersebut di depan mereka”. Kata Walidah, “Inilah batu yang tadi kalian menuduh saya telah mencurinya dan sekiarang telah terbukti bahwa saya tidak mencurinya”. Kata AIsyah: Setelah itu Walidah mendatangi Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam dan dia masuk Islam. Kata AIsyah ra: Walidah memiliki tenda atau bilik kecil di masjid. Kata AIsyah ra: Walidah sering datang ke tempat saya dan sayapun sering bercakap dengannya. Setiap kali Walidah duduk bersama saya, dia senantiasa mendendangkan seuntai bait puisi (yang artinya), “Peristiwa selendang kulit itu salah satu keajaiban Tuhanku. Dia telah menyelamatkan aku dari orang-orang kafir itu”. AIsyah Radliyallaahu ‘anhu bertanya kepada Walidah: “Mengapa setiap kali kamu duduk bersama saya selalu kamu senandungkan bait puisi itu?” Kata AIsyah: Kemudian Walidah menceritakan kepada saya apa yang telah dialaminya seperti yang telah disebutkan itu.

BAB 39: LAKI-LAKI TIDUR DI MASJID.

441 Diriwayatkan dari Sahl bin Sa’d Radliyallaahu ‘anhu, dia berkata: Suatu ketika Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam berkunjung ke rumah Fathimah, namun beliau tidak menemukan Ali di rumah itu. Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bertanya: “Dimana suamimu?” Fathimah menjawab: “Ada masalah antara saya dengan dia, lalu dia marah kemudian keluar tanpa tidur siang di rumah ini”. Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam mengutus seseorang: “Carilah Ali”. Kemudian orang tersebut datang dengan berita: “Ya Rasulullah, Ali sedang tidur di masjid”. Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam kemudian mendatangi Ali ketika dia sedang berbaring terkena debu dengan kain selendangnya yang lepas dari lambungnya. Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam segera membersihkan debu pada tubuh Ali dengan mengatakan: “Bangunlah, hai orang yang terkena debu. Banngunlah, hai orang yagn terkena debu”.

BAB 40: APABILA SESEORANG MASUK MASJID, HENDAKLAH DIA KERJAKAN SOLAT SUNAT TAHIYYATUL MASJID DUA RAK

444 Diriwayatkan dari Abu Qatadah As-Sulami Radliyallaahu ‘anhu, bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam pernah bersabda: “Apabila seseorang memasuki masjid hendaklah dia mengerjakan solat sunat tahiyyatul masjid dua rakaat sebelum dia duduk”.

BAB 41: BANGUNAN MASJID NABI SAW.

446 Diriwayatkan dari Abdullah bin Umar Radliyallaahu ‘anhu, dia berkata: Masjid pada masa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam dibangun dari batu bata dengan atap dari daun-daun kurma dan tiangnya dari batang pohon kurma. Abu Bakr tidak mengubah masjid Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam itu sama sekali. Umar memperluasnya dengan menggunakan bahan-bahan bangunan seperti yang dipergunakan oleh Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam, yaitu batu bata, daun kurma dan tiangnya dari kayu. Kemudian Utsman mengubahnya dengan perluasan yang berarti dengan membuat dindingnya dari batu ukir dan kapur, tiangnya dari batu ukir, serta atapnya dari kayu jati.

BAB 42: GOTONG ROYONG DALAM MEMBANGUN MASJID

447 Diriwayatkan dari Abu Sa’id Al-Khudri Radliyallaahu ‘anhu, bahwa pada suatu hari dia bercerita sampai menuturkan pula tentang pembangunan masjid Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam. Kata Abu Said: Ketika itu kami masing-masing mengangkut batu bata satu-satu, sedangkan Ammar membawa batu bata dua-dua, lalu Ammar dilihat oleh Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam kemudian beliau membersihkan debu dari diri Ammar seraya bersabda, “Kasihan Ammar ini, dia akan dibunuh oleh kelompok orang-orang durhaka. Ammar mengajak mereka ke surga, tetapi mereka mengajak Ammar ke neraka”. Kata Abu Sa’id: Ammar mengatakan, “Aku berlindung kepada Allah dari segala fitnah”.1

1): Fitnah dengan arti perang saudara sesama muslim, pembunuhan, malapetaka, dan ujian hidup yang lain.

BAB 43: PAHALA ORANG YANG MEMBANGUN MASJID.

450 Diriwayatkan dari Utsman bin Affan Radliyallaahu ‘anhu, dalam menanggapi komentar orang-orang ketika dia membangun masjid Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam. Kata Utsman: “Kalian berbicara terlalu berlebihan. Saya pernah mendengar Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda, “Siapa yang membangun masjid hanya karena mengharap ridha Allah, Allah akan membangunkan untuknya sebuah tempat yang serupa di surga”.”

BAB 44: MEMBAWA ANAK PANAH KETIKA LEWAT DI MASJID.

451 Diriwayatkan dari Jabir bin Abdullah Radliyallaahu ‘anhu, dia berkata: Ada seorang laki-laki lewat di masjid dengan membawa anak panah, kemudian Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda kepadanya, “Genggamlah/peganglah pada bagian ujungnya (agar tidak mencemaskan orang-orang di masjid)”.

BAB 45: LEWAT DI MASJID.

452 Diriwayatkan dari Abu Musa Al-Asy’ari Radliyallaahu ‘anhu, bahwa Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam pernah bersabda: “Siapa yang lewat di masjid kami atau di pAsar-pAsar kami dengan membawa anak panah, hendaklah dia memegang anak panah itu pada bagian ujungnya agar dia tidak membuat cemas muslim yang lain”.

BAB 46: BERPUISI DI MASJID.

453 Diriwayatkan dari Hassan bin Tsabit Al Anshari Radliyallaahu ‘anhu, bahwa dia pernah meminta kesaksian Abu Hurairah ra: “Saya meminta kesaksian darimu dengan nama Allah, apakah kamu pernah mendengar Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda, “Hai Hassan, lantunkan puisi untuk membela Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam dalam mengalahkan puisi orang-orang kafir. Ya Allah, dukunglah Hassan dengan Ruh Al-Qudus”. Abu Hurairah Radliyallaahu ‘anhu menjawab, “ya”.

BAB 47: PELEMPAR TOMBAK HADIR DI MASJID

545 Diriwayatkan dari AIsyah Radliyallaahu ‘anhu, dia berkata: Pada suatu hari saya melihat Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam di depan pintu rumah saya yang ketika itu di masjid ada orang-orang Habasyah/Ethiopia, sementara Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam menutupi/meNabiri saya dengan kain selendangnya, sehingga saya dapat melihat permainan tombak mereka. Menurut riwayat lain: … mereka bermain tombak.

BAB 48: MENAGIH PIUTANG DI MASJID.

457 Diriwayatkan dari Ka’b bin Malik Radliyallaahu ‘anhu, bahwa dia pernah menagih piutangnya kepada Ibnu Abi Hadrad di masjid. Kedua orang itu bersuara keras, sehingga terdengar oleh Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam yang sedang berada di rumah, kemudian Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam keluar mendatangi keduanya, sampai beliau membuka tabir kamarnya, lalu beliau bersabda: “Hai Ka’b!” Ka’b menjawab: “Labbasyk, ya Rasulullah!” Sabda beliau selanjutnya: “Kurangi tagihanmu sekian!” Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam berIsyarat yang maksudnya, kurangi separohnya! Ka’b menjawab: “Sudah saya lakukan, ya Rasulullah!” Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda kepada Ibnu Abi Hadrah: “Berdirilah, lalu lunasi hutangmu”.

BAB 49: MENYAPU MASJID, MEMBERSIHKAN VENTILASI, KOTORAN DAN SAMPAHNYA.

458 Diriwayatkan dari Abu Hurairah Radliyallaahu ‘anhu, bahwa seorang laki-laki berkulit hitam atau seorang perempuan berkulit hitam yang biasanya membersihkan masjid, meninggal dunia. Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda kepada para jamaah: “Mengapa kalian tidak memberitahukanku tentang kematiannya?1 Tunjukkan aku di mana kuburnya”. Kemudian Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam mendatangi kuburnya lalu beliau menyolati jenazahnya.

1): sebagai penyapu yang tidak terhormat, sehingga mereka tidak melaporkan kematiannya kepada Rasulullah Saw, maka mereka ditegur oleh Rasulullah Saw.

BAB 50: MENYAMPAIKAN LARANGAN JUAL BELI KHAMAR (MINUMAN KERAS) DI MASJID.

459 Diriwayatkan dari AIsyah Radliyallaahu ‘anhu, dia berkata: Setelah diturunkan ayat-ayat tentang riba di surah Al Baqarah, Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam keluar ke masjid untuk menyampaikannya kepada kaum muslimin, kemudian beliau juga mengharamkan perdagangan khamer.

BAB 51: TAWANAN ATAU ORANG YANG MEMILIKI TANGGUNGAN UTANG DIIKAT DI MASJID.

461 Diriwayatkan dari Abu Hurairah Radliyallaahu ‘anhu, bahwa Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam pernah bersabda: “Tadi malam jin ifrit mendatangiku untuk mengganggu solatku, — atau Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda semakna dengan itu – namun Allah memberiku kemampuan untuk menundukkannya. Aku hendak mengikatnya di salah satu tiang masjid, agar paginya kalian bisa melihatnya, tetapi kemudian aku teringat doa saudaraku, Sulayman (dalam Al Quran yang artinya): “Ya Tuhanku, ampunilah aku dan berilah aku kerajaan yang tidak layak dimiliki oleh seseorang sepeninggalku”. (Shaad:35).

BAB 52: KEMAH DI MASJID UNTUK ORANG SAKIT DAN SEBAGAINYA.

463 Diriwayatkan dari AIsyah Radliyallaahu ‘anhu, dia berkata: Ketika berlangsung perang Khandaq, Sa’d terluka pad aurat lengannya, lalu Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam membuatkan tenda untuk merawatnya di masjid agar beliau bisa menjenguknya dari dekat. Di masjid juga ada tenda lain milik suku Ghifar, tiba-tiba mereka dikejutkan oleh darah yang mengalir ke tenda mereka. Mereka bertanya, “Hai penghuni tenda, apa ini yang mengalir dari tenda kalian menuju kepada kami?” Ternyata darah mengucur deras dari luka Sa’d, dan Sa’d pun kemudian meninggal di tenda itu.

BAB 53: MEMBAWA ONTA KE MASJID KARENA PENUNGGANGNYA SAKIT.

464 Diriwayatkan dari Ummu Slamah Radliyallaahu ‘anhu, dia berkata: Saya mengadu kepada Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam karena sakit. Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Lakukanlah tawaf di belakang orang-orang dengan naik onta”. Saya pun melaksanakan tawaf sesuai perintah Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam. Ketika itu Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam solat di sisi Ka’bah dengan membaca surat Wath-Thuur wa kitaabin masthuur.

BAB 54: CAHAYA MENUNTUN DUA ORANG SAHABAT NABI SAW.

465 Diriwayatkan dari Anas Radliyallaahu ‘anhu, bahwa dua orang sahabat Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam keluar dari Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam pada malam yang gelap gulita, dengan disertai dua berkas cahaya yang menerangi jalan yang mereka lalui. Setelah keduanya berpisah, masing-masing dari dua itu diterangi oleh seberkas cahaya sampai tiba di rumah masing-masing.

BAB 55: PINTU KECIL DAN JALAN DI MASJID.

466 Diriwayatkan dari Abu Sa’id Al Khudri Radliyallaahu ‘anhu, dia berkata: Suatu ketika Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam berkhotbah. Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam ketika itu bersabda: “Sesungguhnya Allah memberikan pilihan kepada hamba-Nya, kemudian seorang hamba tersebut memilih pahala di sisi Allah”. Abu Bakr Radliyallaahu ‘anhu menangis. Saya berkata dalam hati: Mengapa Abu Bakr menangis? Jika Allah memberikan pilihan kepada hamba-Nya antara dunia dan pahala di sisi-Nya, lalu seorang hamba tersebut memilih pahala di sisi Allah, tentunya seorang hamba tersebut adalah Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam sendiri. Abu Bakr memang orang yang paling paham di antara kami mengenai Islam. Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Hai Abu Bakr, jangan menangis. Karena orang yang paling dekat dalam persahabatan dengan aku dan dalam mencurahkan hartanya kepadaku untuk Islam adalah Abu Bakr. Seandainya aku menjadikan seorang kekasih dari umatku niscaya aku memilih Abu Bakr, tetapi persaudaraan dan kasih sayang seorang sesama muslim adalah lebih utama. Tutuplah semua pintu di masjid kecuali pintu Abu Bakr”.

467 Diriwayatkan dari Abdullah bin Abbas Radliyallaahu ‘anhu, dia berkata: Ketika Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam sakit di akhir-akhir hayatnya, Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam keluar dengan menutupkan kain pada kepalanya, kemudian beliau duduk di atas mimbar. Setelah memuji dan menyanjung Allah, beliau bersabda, “Sungguh tidak ada orang yang paling setia kepadaku dalam persahabatan dan dalam mencurahkan hartanya selain Abu Bakr bin Abu Quhafah. Seandainya aku menjadikan seorang kekasih dari umat manusia niscaya aku memilih Abu Bakr sebagai kekasihku, tetapi kecintaan sesama muslim adalah lebih utama. Tutuplah semua pintu kecil di masjid ini, kecuali pintu untuk Abu Bakr”.

BAB 56: PINTU-PINTU DAN KUNCI-KUNCI KA’BAH SERTA MASJID.

468 Diriwayatkan dari Abdullah bin Umar Radliyallaahu ‘anhu, bahwa ketika Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam tiba di mekah beliau memanggil Utsman bin Thalhah untuk membukakan pintu Ka’bah. Kemudian Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam masuk bersama Bilal, Usamah bin Zayd, dan Utsman bin Thalhah, lalu pintu Ka’bah dikunci. Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam berada satu jam di dalam Ka’bah, kemudian mereka keluar. Kata Abdullah bin Umar: Saya segera bertanya kepada Bilal (tentang apa yang diperbuat oleh Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam di Ka’bah). Bilal menjawab, “Rasulullah mengerjakan solat di dalamnya”. Saya tanyakan lagi, “Di bagian mana?” Bilal menjawab, “Di antara dua pilar”. Kata Abdullah bin Umar: Saya lupa, tidak menanyakan kepada Bilal berapa rakaat Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam melakukan solat di Ka’bah.

BAB 57: MENGKAJI AGAMA DI MASJID.

472 Diriwayatkan dari Abdullah bin Umar Radliyallaahu ‘anhu, dia berkata: Seorang laki-laki bertanya kepada Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam ketika beliau berada di atas mimbar, “Bagaimana solat sunat pada malam hari itu?” Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam menjawab, “Lakukanlah dua rakaat dua rakaat, dan apabila kamu khawatir tibanya waktu Subuh, maka lakukanlah solat sunat satu rakaat sebagai penutup dan penggasal solat sunat yang telah kamu lakukan”. Abdullah bin Umar mengatakan: Akhirilah solat sunatmu di malam hari dengan witir (bilangan rakaat yang gasal), karena Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam mengajarkan demikian itu.

BAB 58: BERBARING DI MASJID.

475 Diriwayatkan dari Abdullah bin Zayd Al-Anshary Radliyallaahu ‘anhu, bahwa dia pernah melihat Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam berbaring di masjid dengan menindihkan salah satu kakinya pada yang lain.

BAB 59: SOLAT DI MASJID PASAR.

477 Diriwayatkan dari Abu Hurairah Radliyallaahu ‘anhu bahwa Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam pernah bersabda: “Solat dengan berjamaah adalah 25 kali lipat dibanding dengan solat sendirian di rumah atau di pAsar. Apabila seseorang berwudu dengan menyempurnakan wudunya, kemudian dia pergi ke masjid tanpa tujuan lain kecuali solat, maka pada setiap langkahnya, Allah memberinya satu pahala dan menghapus satu dosanya sampai dia masuk ke masjid. Apabila dia sudah masuk ke masjid selama dia menunggu pelaksanaan solat jamaah dia dihitung sama dengan melakukan solat dan para malaikatpun memohonkan rahmat untuknya selama dia berada di tempat yang akan dia tempati untuk solat sambil menunggu pelaksanaan solat jamaah. Para malaikat berdoa: “Ya Allah, ampunilah dia dan berilah dia rahmat”. Demikian itu selama dia berhadas dan tidak bercakap-cakap”.

BAB 60: MENANGKUPKAN JARI-JARI DI DALAM MASJID.

481 Diriwayatkan dari Abu Musa Radliyallaahu ‘anhu, bahwa Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam pernah bersabda: “Sesungguhnya orang mukmin yang satu dengan yang lain bagaikan sebuah bangunan yang bagian-bagiannya saling mengokohkan”. Beliau sambil menangkupkan jari-jari kedua tangannya.

482 Diriwayatkan dari Abu Hurairah Radliyallaahu ‘anhu, dia berkata: Suatu ketika Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam mengimami kami solat Isya dan ketika baru mendapat dua rakaat beliau salam. Kemudian Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam berdiri dengan bersandar pada sebatang kayu yang melintang di dalam masjid dengan tampak marah. Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam meletakkan tangan kanannya di atas tangan kirinya dan menempelkan pipi kanannya pada punggung telapak tangan kirinya. Orang-orang pun segera keluar melalui pintu-pintu masjid sambil bertanya-tanya: “Apakah solat Isya dikurangi rakaatnya?” Di tengah orang-orang itu terdapat Abu Bakr dan Umar, namun keduanya merasa segan untuk menanyakan hal itu kepada Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam. Diantara orang-orang itu ada seorang yang bertangan panjang yang dijuluki Dzul yadayn. Dzul yadayn bertanya: “Ya Rasulullah, apakah anda tadi lupa ataukah memang solat Isya dikurangi rakaatnya?” Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam menjawab: “Aku tidak lupa dan solat Isya juga tidak dikurangi rakaatnya”. Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bertanya: “Benarkah kata Dzul yadayn?” Orang-orang menjawab: “Benar”. Kemudian Rasulullah berdiri lagi untuk melengkapkan jumlah rakaat yang belum terjalani. Setelah salam beliau bertakbir untuk berwujud (sahwi) sebagaimana sujud biasanya atau lebih lama, lalu beliau mengangkat kepala dengan bertakbir, setelah duduk beliau bertakbir lagi untuk bersujud (sahwi yang kedua kalinya) seperti sujud biasanya atau lebih lama, kemudian beliau mengangkat kepala dengan bertakbir, lalu mengucapkan salam.

BAB 61: MASJID DAN TEMPAT-TEMPAT SOLAT NABI SAW DI JALAN-JALAN MADINAH.

483 Diriwayatkan dari Abdullah bin Umar Radliyallaahu ‘anhu, bahwa dia mengerjakan solat di beberapa tempat dalam perjalanan. Abdullah bin Umar mengatakan bahwa dia pernah melihat Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam melakukan solat di tempat-tempat tersebut.

484 Diriwayatkan dari Abdullah bin Umar Radliyallaahu ‘anhu bahwa dalam perjalanan umrah dan haji Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam pernah singgah di Dzul Hulayfah di bawah pohon Samurah di sekitar tempat solat yang ada di Dzul Hulayfah. Ketika Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam pulang dari peperangan, umrah atau haji, beliau menuruni lembah di jalan itu. Sesudah sampai di lembah itu beliau menghentikan ontanya di aliran air di bagian timur lembah, lalu beliau beristirahat di situ sampai pagi. Di tempat itu tidak ada masjid yang dibangun dari batu dan tidak ada pula masjid di atas bukit. Di situ ada sebidang tanah yang menjorok yang ditengahnya ada tumpukan pasir yang ditempati oleh Abdullah bin Umar untuk solat. Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam pernah melakukan solat di tempat itu, namun tempat yang dipergunakan solat oleh Abdullah bin Umar itu akhirnya hanyut dan tenggelam karena terkena aliran air.

485 Abdullah bin Umar Radliyallaahu ‘anhu, menuturkan bahwa Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam pernah mengerjakan solat di suatu masjid kecil, lebih kecil daripada masjid yang ada di bagian atas Rawha. Abdullah bin Umar mengetahui tempat yang dipergunakan solat oleh Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam tersebut. Kata Abdullah bin Umar: Di sanalah masjid itu, di sebelah kananmu ketika kamu mengerjakan solat di masjid dalam perjalanan ke mekah, yaitu di tepi jalan bagian kanan jarak antara masjid yang lebih besar yang biasa kamu tempati untuk solat dalam perjalanan ke mekkah itu dengan mesjid kecil yang pernah ditempati solat oleh Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam sejauh lemparan batu atau semisal dengan itu.

486 Abdullah bin Umar Radliyallaahu ‘anhu pernah mengerjakan solat di suatu bukit di pinggiran Rahwa. Bukit tersebut ujungnya berada di tepi jalan yang didekatnya ada sebuah masjid antara bukit dengan pinggiran Rawha ketika kamu pergi ke mekkah. Di tempat itu telah dibangun sebuah masjid, namun Abdullah bin Umar tidak mengerjakan solat di mesjid itu. Abdullah bin Umar meninggalkan masjid itu dari arah kiri dan belakangnya, lalu dia mengerjakan solat di depan masjid itu, yakni di atas bukit. Ketika pulang dari Rawha Abdullah bin Umar tidak melakukan solat Zhuhur di situ. Apabila Abdullah bin Umar pulang dari Mekkah melalui jalan itu sebelum Subuh atau menjelang fajar, dia beristirahat di tempat itu sampai dia melakukan solat Subuh.

487 Abdullah bin Umar Radliyallaahu ‘anhu, menuturkan bahwa Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam pernah singgah di bawah pohon besar di dekat Ruwaytsah di sebelah kanan jalan dan menghadap ke jalan yang lebar di tempat yang lapang. Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam melanjutkan perjalanan hingga meninggalkan perbukitan sejauh 2 mil dari ruwaytsah. Tempat itu bagian atasnya telah pecah sehingga miring ke jurangnya dengan berada di atas saluran air yang di dalamnya terdapat gundukan pasir yang banyak.

488 Abdullah bin Umar Radliyallaahu ‘anhu, menuturkan bahwa Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam pernah mengerjakan solat di ujung suatu saluran air di belakang Arj dalam perjalanan menuju Hadhbah. Di dekatnya ada 2 atau 3 kuburan. Di atas kuburan tersebut ada tumpukan batu di sebelah kanan jalan yang di dekatnya ada bebatuan. Ketika Abdullah bin Umar Radliyallaahu ‘anhu pulang dari Arj setelah matahari condong sedikit ke barat, dia beristirahat di bebatuan di jalan itu, kemudian dia mengerjakan solat zhuhur di siti.

489 Abdullah bin Umar Radliyallaahu ‘anhu, menuturkan: Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam pernah singgah di pepohonan di sebelah kiri jalan di saluran air dekat Harsya. Saluran air tersebut bersambung dengan ujung Harsya yang jaraknya dengan jalan kira-kira satu lemparan anak panah. Abdullah bin Umar Radliyallaahu ‘anhu pernah mengerjakan solat di bahwa sebuah pohon yang tertinggi, yaitu pohon yang terdekat dengan jalan.

490 Abdullah bin Umar Radliyallaahu ‘anhu, menuturkan bahwa Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam pernah singgah di saluran air di dekat Marr Azh Zhahran yang menghadap ke Madinah. Ketika beliau pulang dari Shafrawat, beliau singgah di lembah sebelah kiri jalan di saluran air tesebut pada jalur menuju ke mekah, jarak antara tempat persinggahan Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam tersebut dengan jalan sejauh lemparan batu.

491 Abdullah bin Umar Radliyallaahu ‘anhu, menuturkan: Ketika Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam mendekati mekkah, beliau singgah di Dzi Thuwa dan bermalam di situ sampai pagi, kemudian beliau mengerjakan solat Subuh di situ pula. Tempat solat Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam tersebut berada di atas bukit besar, bukan di lokasi yang di hari kemudian id bangun masjid, melainkan di tempat yang lebih rendah, di atas bukit besar.

492 Abdullah bin Umar Radliyallaahu ‘anhu menuturkan bahwa Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam menghadap kedua celah sebuah gunung yang mengarah ke Ka’bah yang celah tersebut terletak di antara Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam dengan gunung yang tinggi, Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam menjadikan tempat itu untuk solat yang di hari kemudian di situ dibangun mesjid di sebelah kiri tempat solat Rasulullah aaw tersebut di ujung bukit. Tempat solat Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam lebih rendah daripada lokasi masjid yang dibangun itu yang berada di atas bukit hitam. Jarak antara tempat solat Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam tersebut dengan bukit kira-kira 10 hasta. Lakukanlah solat di situ dengan menghadap kedua celah gunung yang berada di antara kamu dengan arah Ka’bah.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s